Fenomena Medsos, Radikalisme Dan Pelaksanaan Idul Adha 2020 Jadi Poin Krusial Pleno Ke-68 Wantim MUI

  • Whatsapp
Wakil Ketua Wantim MUI, Didin Hafidhuddin dalam jumpa pers daring Rapat Pleno ke-68 Dewan Pertimbangan MUI bertajuk Taushiyah Tentang Penggunaan Isu Radikalisme/Repro/RMOL
Wakil Ketua Wantim MUI, Didin Hafidhuddin dalam jumpa pers daring Rapat Pleno ke-68 Dewan Pertimbangan MUI bertajuk Taushiyah Tentang Penggunaan Isu Radikalisme/Repro/RMOL

SOROT.NET – Terdapat tiga poin krusial yang menjadi hasil Rapat Pleno Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (Wantim MUI) ke-68.

Antara lain menyikapi derasnya arus informasi dalam media sosial, bergulirnya kembali isu radikalisme di tengah pandemik Covid-19, serta perayaan Idul Adha 2020.

Bacaan Lainnya

Demikian disampaikan Wakil Ketua Wantim MUI, Didin Hafidhuddin saat jumpa pers daring Rapat Pleno ke-68 Dewan Pertimbangan MUI bertajuk ‘Taushiyah Tentang Penggunaan Isu Radikalisme’ pada Selasa (28/7).

“Ada tiga hal yang ingin kami sampaikan berkaitan dengan Rapat Pleno Wantim MUI yang ke-68. Pertama, berkaitan dengan medsos. Kedua, berkaitan dengan radikalisme. Ketiga, berkaitan dengan Idul Adha,” ujar Didin Hafidhuddin.

Didin mengurai, terkait penggunaan medsos oleh semua usia dari anak-anak, pemuda, hingga dewasa mesti disikapi secara serius oleh semua pihak. Sebab, dampak positif bahkan negatif sangat dahsyat bagi masyarakat.

“Tentu aspek positif dan negatifnya harus diperhatikan dengan seksama oleh semua pihak,” jelasnya.

Didin menambahkan, berdasarkan rekomendasi hasil Rapat Pleno ke -68, Wantim MUI menyerukan kepada semua ormas Islam agar membentuk departemen khusus untuk memantau konten media sosial dalam rangka meminimalisir dampak negatif dari derasnya arus informasi di medsos.

“Diharapkan pimpinan organisasi Islam di Indonesia memiliki satu departemen, divisi yang berkaitan dengan medsos ini untuk melihat, memperhatikan konten-kontennya agar jangan sampai menjadi korban,” imbaunya.

Adapun, berkaitan dengan bergulirnya kembali isu radikalisme juga harus menjadi perhatian serius semua ormas Islam. Sebab, kata Didin, yang disesalkan pada isu radikalisme seolah mendiskreditkan umat Islam. Padahak, radikalisme bisa terjadi di semua agama dan disebabkan sejumlah faktor yang kompleks.

“Kita Wantim, tentu sangat prihatin dengan kembali dimunculkannya isu radikalisme yang kemudian ujungnya adalah umat Islam bahkan juga tokoh-tokoh Islam (disudutkan),” sesalnya.

“Radikalisme itu tidak ada kaitannya dengan agama, agama apa pun. Radikalisme bersifat perorangan, kelompok, juga ada pada berbagai macam bidang,” imbuh Didin.

Lebih lanjut, terkait pelaksanaan Idul Adha 2020 diharapkan kepada semua Khotib Shalat Ied agar menyampaikan khutbah yang menenangkan dengan spirit persatuan kebangsaan yang kini tengah menghadapi wabah virus Corona.

“Khutbah-khutbah yang mempersatukan bangsa, umat dan khutbah yang menguatkan keinginan untuk berbagi, memberikan bantuan, tolong-menolong kepada mereka yang terpapar karena Covid-19,” demikian Didin Hafidhuddin.

Dalam konferensi pers tersebut, turut hadir pula Ketua Wantim MUI, Din Syamsuddin, dan perwakilan sejumlah ormas-ormas Islam.

Sumber: rmol.id

Pos terkait